Tanya Nisyfu Sa'ban



assunnah@yahoogroups.com--- haerul.saleh@id.panasonic.com wrote:
Re: [assunnah] >>Tanya Nisyfu Sa'ban<<

> Assalaamu'alaikum,
> Afwan, ana kehilangan data tentang NISYFU SA'BAN.
> Apabila diantara ikhwan/ akhwat ada yang masih
> menyimpan datanya, mohon dapat dikirimkan kealamat
> E-mail ini.
> Syukron.
> Haerul Saleh

Peringatan Malam Nisfu Sya'ban

Peringatan malam Nisfu Sya'ban dan mengkhususkan puasa pada hari
tersebut, hingga saat ini masih membudaya di sebagian kaum muslimin.
Padahal tidak ada satu pun dalil shahih yang dapat dijadikan
sandaran.

Berikut ini adalah penjelasan dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah
bin Baz Rahimahullaah (‘ulama ahlul hadits dari Arab Saudi, telah
meninggal dunia sekitar tahun 1999) berkenaan dengan peringatan
tersebut, semoga bermanfaat.

Memang ada beberapa riwayat tentang malam Nisfu Sya'ban berasal dari
sebagian salaf ahli Syam dan lainnya. Namun pendapat yang dianut
jumhur (mayoritas) ulama' bahwa peringatan malam Nisfu Sya'ban
adalah bid'ah dan hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaannya
semuanya dha'if (lemah), dan sebagian lagi maudhu' (palsu).

Di antara ulama yang memperingatkan hal tersebut yaitu Al-Hafizh
Ibnu Rajab dalam kitab Latha'iful Ma'arif dan ulama' lainnya.

Hadits-hadits dha'if (lemah) hanya bisa diamalkan dalam ibadah jika
asalnya didukung oleh dalil yang shahih. Adapun peringatan malam
Nisfu Sya'ban tidak ada hadits shahih yang mendasari hadits-hadits
yang dha'if, itu agar dapat dijadikan sebagai pendukungnya.

Kaidah agung ini telah disebutkan oleh Imam Abul Abbas Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullaah .

Berikut ini akan kami sampaikan kepada para pembaca pendapat para
ahli ilmu dalam hal ini, sehingga masa-lahnya menjadi jelas. Para
ulama, telah sepakat bahwa wajib mengembalikan segala masalah yang
diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur'an) dan sunnah
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Ibadah apa pun yang tidak
disebutkan oleh keduanya adalah bid'ah, tidak boleh dikerjakan,
apalagi mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya.

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala ,

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul- Nya, dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu
berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa': 59)

"Tentang sesuatu apa pun kamu berseli-sih, maka putusannya
(terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itu
Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku
kembali." (Asy-Syura: 10)

"Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu" (Ali 'Imran: 31)

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman, hingga
mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa kebera-tan dalam hati
mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima
sepenuhnya." (An-Nisa': 65).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna dengan ini. Itu semua
merupakan nash yang mewajibkan agar masalah-masalah yang diperse- lisihkan tersebut dikembalikan kepada Al-Qur'an dan hadits.

Mengenai malam Nisfu Sya'ban, Ibnu Rajab dalam kitabnya, Latha'iful
Ma'arif mengatakan, "Para tabi'in dari ahli Syam (sekarang Syria,
pen) seperti: Khalid bin Ma'dan, Makhul, Luqman bin Amir dan lain- lainnya, pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah
pada malam Nisfu Sya'ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil
keutamaan dan pengagungan itu dari mereka. Dikatakan pula, bahwa
mereka melaku-kan perbuatan demikian karena adanya cerita-cerita
Israiliyat (cerita-cerita Bani Israil). Ulama' ahli Syam pun juga
berbeda pendapat di dalam bentuk pelaksanaannya. Ada dua pendapat:

Pertama, dianjurkan menghidupkan malam ini dengan berjama'ah di
masjid-masjid. Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir dan lainnya pada
malam ini biasanya mengenakan pakaian yang paling baik, memakai
wewangian dan celak, serta mereka bangun malam melakukan shalat di
masjid. Ini disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih. Menurutnya, shalat
malam secara berjama'ah tidak bid'ah. Hal ini dinukil oleh Harb Al- Karmani dalam kitabnya, Masa'il.

Kedua, adalah makruh berkumpul pada malam ini di masjid untuk
shalat, bercerita dan berdoa. Tetapi boleh, jika menjalankan shalat
secara sendirian. Ini pendapat Al-Auza'i, seorang imam, ahli fiqih
dan ulama' ahli Syam. Insya Allah pendapat inilah yang lebih
mendekati kebenaran. Sedangkan Imam Ahmad tidak diketahui bahwa
beliau mempunyai pendapat khusus berkenaan dengan malam Nisfu
Sya'ban.

Adapun pendapat Imam Al-Auza'i tentang istihab (dianjurkannya)
shalat pada malam itu secara individu, sebagaimana pendapat ini
menjadi pilihan Al-Hafizh Ibnu Rajab, maka hal itu adalah aneh dan
lemah. Karena segala perbuatan, bila tidak ada dalil syar'i yang
menetapkan pensyari'atan-nya, maka tidak boleh bagi seorang muslim
mengada-adakannya di dalam Islam, baik itu dikerjakan secara
individu ataupun kolektif (berjama'ah), secara sembunyi-sembunyi
maupun terang-terangan. Berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallaahu
alaihi wasalam,

"Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami
perintahkan, maka (perbuatan) itu tertolak" (HR Muslim, Hadits
Arba’in no. 5).

Dan dalil-dalil lainnya yang meng-ingkari perbuatan bid'ah dan
memperi-ngatkan agar dijauhi.

Imam Abu Bakar Ath-Thurthusyi Rahimahullaah dalam kitab-nya, Al- Hawadits wal Bida' mengatakan, "Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari
Zaid bin Aslam, katanya, 'Kami tidak menjumpai seorang pun dari guru
dan ahli fiqh kami yang memperhatikan malam Nisfu Sya'ban, ataupun
mengindahkan hadits Makhul. Mereka pun tidak memandang adanya
keutamaan pada malam tersebut terhadap malam-malam lainnya.
Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwa Zaid An-Numari
menyatakan, 'Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu
Sya'ban menyamai pahala Lailatul Qadar.' Ia pun berkata, "Seandainya
saya men-dengarnya sedang di tangan saya ada tongkat pasti saya
pukul. Zaid adalah seorang pendongeng."

Al-'Allamah Asy-Syaukani Rahimahullaah dalam kitab Al-Fawa'id Al- Majmu'ah menyatakan bahwa hadits,

"Wahai Ali, barangsiapa melakukan shalat pada malam Nisfu Sya'ban
sebanyak 100 rakaat, pada setiap rakaat ia membaca Al-Fatihah dan Al- Ikhlash sebanyak 10 kali, pasti Allah memenuhi segala
hajatnya .dst."

Hadits ini adalah maudhu' (palsu). Lafazh-nya yang menerangkan
tentang pahala yang akan diterima oleh pelaku-nya, tidak diragukan
lagi kelemahan-nya, bagi orang yang berakal. Sanadnya pun majhul
(tidak dikenal). Telah diriwayatkan dari jalan ke dua dan ke tiga,
tetapi kesemuanya maudhu' dan para periwayatnya adalah orang-orang
yang tidak dikenal."

Di dalam kitab Al-Mukhtashar, Asy-Syaukani menyatakan, "Hadits yang
menerangkan shalat Nisfu Sya'ban adalah bathil. Sedangkan
hadits, "Jika datang malam Nisfu Sya'ban, maka bershalatlah pada
malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya". Yang diriwayatkan
oleh Ibnu Hibban dari Ali adalah dha'if."

Di dalam kitab Al-La'ali, dinyatakan bahwa hadits "Seratus rakaat
pada malam Nisfu Sya'ban dengan ikhlas pahalanya sepuluh kali
lipat", yang diriwayatkan Ad-Dailami, adalah maudhu' dan mayoritas
perawinya pada ketiga jalan hadits ini adalah orang-orang yang
majhul dan dha'if. Kata Imam Asy-Syaukani, "Hadits yang menerang-kan
bahwa dua belas rakaat dengan ikhlas pahalanya tiga puluh kali
lipat, dan hadits empat belas rakaat.dst adalah maudhu'."

Shalat pada malam Nisfu Sya'ban ini telah diriwayatkan dengan
berbagai cara dan banyak jalan, kesemuanya bathil dan maudhu'. Al- Hafizh Al-Iraqi mengatakan, "Hadits yang menerang-kan tentang Nisfu
Sya'ban adalah maudhu' (palsu) dan pendustaan atas diri Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wasallam."

Di dalam kitab Al-Majmu', Imam An-Nawawi Asy Syafi'i
menyatakan, "Shalat yang dikenal dengan Ragha'ib yang berjumlah dua
belas rakaat dan dikerjakan antara Maghrib dan Isya' pada Malam
Jum'at pertama Bulan Rajab, serta shalat malam Nisfu Sya'ban yang
berjumlah seratus rakaat, adalah bid'ah yang mungkar, tak boleh
seseorang terperdaya hanya karena kedua shalat ini disebutkan dalam
kitab Quutul Qulub dan Ihya' Ulumiddin (karya Imam Ghozali), atau
karena berdasarkan hadits yang disebutkan dalam kedua kitab ini.

Cukuplah bagi pencari kebenaran dalam masalah ini, juga masalah
lainnya, firman Allah Subhannahu wa Ta'ala

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukup- kan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama
bagimu." (Al-Ma'idah: 3)

Dan ayat-ayat lain serta hadits-hadits yang senada maknanya, seperti
sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,

"Barangsiapa mengada-adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama)
kami, yang bukan merupakan ajaran-nya, maka akan ditolak (HR Bukhari
Muslim)." Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Barangsiapa mengerjakan
sesuatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu
tertolak".

Dari Jabir Radhiallaahu anhu katanya, "Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam dalam khutbah Jum'at pernah bersabda,

"Adapun sesudahnya, sungguh, sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah
(Al-Qur'an), sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, dan
seburuk-buruk perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan
(bid'ah), sedang setiap bid'ah itu kesesatan".

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallaahu
anhu , Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,

"Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum'at dari-pada malam-malam
lainnya dengan shalat, dan janganlah kalian mengkhususkan siang
harinya daripada hari-hari lainnya dengan puasa, kecuali jika dalam
puasa yang mesti (biasa) dilakukan oleh seseorang di antara kalian"

Tatkala Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melarang pengkhususan
shalat pada malam Jum'at daripada malam lainnya, hal itu menunjukkan
bahwa pada malam lain lebih tidak boleh dikhususkan dengan ibadah
tertentu, kecuali jika ada dalil shahih yang menunjukkan
pengkhususan, seperti malam Lailatul Qadar dan malam-malam Bulan
Ramadhan.

Andaikata malam Nisfu Sya'ban diperintahkan untuk dikhususkan dengan
cara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam
memberikan petunjuk kepada umatnya atau beliau sendiri
mengerjakannya. Dan jika hal itu memang pernah terjadi, niscaya
telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita, mereka tidak akan
menyembunyi-kannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan
yang paling tulus setelah para nabi.

Kepada Allah jualah kita memohon, semoga melimpahkan taufik-Nya
kepada kita dan kaum muslimin semua untuk berpegang teguh dengan
sunnah dan menetapinya, serta mewaspadai hal-hal yang bertentangan
dengannya. Sungguh, Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi. Semoga shalawat
dan salam selalu dilimpahkan kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad
Shalallaahu alaihi wasalam , kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Dari buku "At-Tahdzir Minal Bida" Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz]



assunnah@yahoogroups.com---Abu Ghazi [onlyonejo0907@yahoo.com]
[assunnah] Re: >>Tanya Puasa Nisfu Sya`ban<<

Akan coba ana jawab berdasarkan apa yg akan ana cuplik dari buku "
Puasa Sunnah--- Hukum dan Keutamaannya karangan Usamah Abdul Aziz,
Penerbit Darul Haq, Judul Aslinya : Shiyam at-Tathawwu' Fadha'il wa
Ahkam

Bid'ahnya menetapkan Puasa pada pertengahan bulan Sya'ban

Menetapkan puasa secara khusus pada hari pertengahan bulan Sya'ban
tanpa hari-hari yang lain karena diyakini memiliki keutamaan di
banding hari-hari lainnya adalah perbuatan Bid'ah ini karena tidak
ada dalil yg shahih yg menerangkannya.
Hadits² yg ada dalam masalah ini adalah hadits²yang sangat lemah
bahkan maudlu'

Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda "Bila malam pertengahan bulan Sya'ban tiba maka
lakukanlah shalat di malam harinya dan puasa di siang harinya, karena
sesungguhnya Allah turun pada malam itu saat matahari tenggelam ke
langit dunia, lalu dia berfirman : Adakah orang yang memohon ampun,
maka Aku pasti mengampuninya, adakah orang yang meminta rizki maka
Aku pasti memberinya, Adakah orang yang tertimpa musibah, maka Aku
pasti menyelamatkannya, Adakah ini, adakah itu ... hingga fajar
terbit
(Hadits ini sangat lemah dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1388)
melalui jalan Abdurrazaq dari Ibnu Abi Sabrah dari Ibrahim dari
Muawiyah bin Abdillah bin Ja'far dari bapaknya dari Ali bin Abi
Thalib)

Usamah Abdul Aziz berkata : Sanadnya sangat lemah dan kecacatannya
terletak pada Ibnu Abi Sabrah yang bernama Abu Bakar bin Abdillah bin
Muhammad bin Ibnu Abi Sabrah. Para ulama menuduhnya telah memalsukan
hadits. Ahmad berkata "dia perawi yg sangat lemah". dia dalah pemalsu
hadits dan dia seorang pendusta.
Ibnu Ma'in berkata Haditsnya sangat lemah
Ibnu Al Madini berkata Dia seorang perawi yg lemah haditsnya. Kadang
Ibnu Ma'in mentakan dia perawi yg hadistnya munkar dan menurut saya
dia seperti Ibnu Adi Yahya.
Ibnu Adi berkata : Mayoritas riwayatnya tidak shahih dan dia termasuk
para pemalsu hadits.
Mengenai gurunya terdapat perbedaan pendapat. PAkah dia adalah Ibnu
Abi Yahya ? Jika benar ia Ibnu Abi Yahya, maka dia tidak lebih baik
dari muridnya dan jika bukan Ibnu ABi Yahya, maka dia perawi yang
majhul (tidak jelas identitasnya. Ad Dzahabi dalam Mizan al-I'tidal
berkata "Mungkin dia (gurunya) adalah Ibnu ABi Yahya dan jika bukan
maka dia bukan perwai yg dikenal (masyhur)        

Pendapat al-Mubarakfury dalam Tuhfat al-Ahwadzi (3/444)

Saya tidak mendapatkan hadist Marfu' yang shahih tentang puasa pada
hari pertengahan bulan Sya'ban. Mengenai Hadisty Ali bin ABi Thalib
yg diriwaytkan oleh Ibnu Majah seperti redaksi di atas saya telah
mengetahuinya bahwa hadist ini adalah hadits yang sangat lemah.

Ali juga memiliki hadits lain yang redaksinya berbunyi
"Bila pad hari itu seseorang berpuasa maka ia sperti berpuasa selama
enam puluh tahun dan enam puluh tahun yang akan datang
(Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam al-Maudhu'at
(hadits²palsu) dan dalam komentarnya ia mengatakan "Sanadnya Gelap"

Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan ditanya

Apakah disyariatkan melakukan shalat malam pertengahan Sya'ban dan
melakukan puasa siang harinya?

Jawab

Tidak ada hadits yg shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
tentang anjuran shalat pada malam pertengahna Sya'ban secara khusus
dan puasa pada siang harinya secara khusus pula. Tidak ada satupun
hadist shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal itu
yg dapat dijadikan acuan. Malam pertengahan bulan Sya'ban adalah
malam yg sama dengan malam² lainnya. Bila seseorang memiliki
kebiasaan melakukan shalat malam, maka dia boleh melakukannya pada
malam tersebut seperti malam² lainnyatanpa ada keistimewaan khusus
yang dimiliki malam itu. Sebab menetapkan waktu tertentu untuk
melakukan ibadah harus memiliki dalil yang shahih dan jika dalil
shahih tidak ada maka itu dapat disebut bid'ah dan setiap bid'ah
adalah kesesatan.

Demikian juga tidak ada dalil sevara khusus dari Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam tentang disyari’atkan puasa pada
tanggal 15 bulan Sya’ban atau pada pertengahan bulan tersebut. Adapun
hadits² yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadist palsu
sebagaimana telah dikemukakan para ulama. Akan tetapi bagi orang yg
memiliki kebiasaan pada hari-hari putih (tgl 14, 15, 16) maka ia
boleh melakukan puasa Sya’ban seperti pada bulan-bulan lainnya tanpa
mengkhususkan hari itu saja. Misalnya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam selalu berpuasa dan bahkan memperbanyak puasa pada bulan
ini (Sya’ban) tanpa mengkhususkannya hari itu saja, tetapi hari itu
masuk secara kebetulan.

Untuk lebih jelasnya silahkan merujuk pada Buku Puasa Sunnah â€" Hukum
dan Keutamaanya Karangan Usamah Abdul Azis, hal. 62 -64 dengan judul
aslinya Shiyam at-Tathawwu' Fadha'il wa Ahkam

Barrakallahufeekum
Wasalamu’alaikum
Abu Ghazi


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: assunnah-subscribe@yahoogroups.com
Ketentuan posting : aturanmilis@assunnah.or.id
------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    assunnah-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:







































Doa memeliki kedudukan yg sangat penting da mulia, shg akhir penyelesaian segala sesuatu bisa melalui doa. Semua manusia dari yg kaya atau miskin, besar ato kecil, tua ato muda, laki2 ato perempuan selalu dianjurkan utk berdoa.


“Dan Tuhanmu berfirman:’ Berdoalah kepadaKu,niscaya akan Kuperkenankan kepadamu’.” (Qs. Ghafiir:60)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi Shalallahu’alaihi wassalam bersabda :

“Sesungguhnya Tuhan kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam yang akhir, lalu berfirman:’Barangsiapa yang berdoa, maka akan Aku kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti akakn Aku perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya’." (hr. al Bukhari)

Akan tetapi ada sebagian doa tertahan ato tertolak karena terdapat beberapa penghalang, kekeliruan ato kesalahan dalam berdoa, serta sikap yang melampaui batas dan tidak memenuhi syarat2; petunjuk Allah dan Rasulnya dlm berdoa.
Sebuah doa akan dikabulkan apabila dilakukan dengan tata cara yang benar, dilakukan di waktu2 yg tepat dan apabila bersumber dari al Qur’an dan Sunnah.

Al Qur’an, as Sunnah dan Atsar salafush shalih telah memberikan petunjuk mengenai jenis doa dan dzikir yg dianjurkan sebagaimana ibadah2 lainnya. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam sdh menjelaskan kepada umatnya dengan gamblang mengenai doa dan csikir dgn lengkap dan sempurna setiap hari, setiap waktu, dlam berbagai kesempatan dan dalam situasi dan kondisi yg dialami oleh setiap muslim.

"Ya Allah!! Sebagaimana Engkau Pernah menghantar burung-burung ababil menghancurkan tentera bergajah Musyrikin, maka kami memohon kepada mu Ya Allah........ turunkan lah bantuan mu kali ini kepada orang orang Islam di  Libanon, hancurkanlah rejim zionis..amin...."> >
(Lalu bacalah  surah Al Fil / membayangkan kehancuran tentera Yahudi - dengan Izin Allah)
 
Surah al fil:
"A'lam tara kayfa fa'ala rabbuka bi as-hab al-fil
"A'lam ya'jal kaydahum fi tadlil Wa arsala alayhim tayran ababil
"Tarmihim bi hijaratin min sijjil Fa ja'ala hum ka asfin ma'kul"

Lipat gandakan doa ini. Kirim kepada 7 orang rakan anda yang lain.
Maka 7 X 7 X 7 X 7 X 7 X 7 X 7 = 823453 orang akan berbuat berdoa,
kemudian 823453 X 7 = 5.8 juta orang...InsyaAllah akan ikut berdoa...

Sesungguhnya Allah maha pemurah lagi mengasihani, mendengar doa kita.
Adalah dialu-alukan kepada sesiapa yang berinisiatif menterjemahkan dalam bahasa Inggeris
untuk dihantar ke saudara Islam di UK dan US serta pelusuk dunia. 

Dari Mughirah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [artinya] : Sesungguhnya berdusta atas (nama)-ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)-ku dengan sengaja, maka hendak-lah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka." [Al-Bukhari no. 1291 dan Muslim I/10]



Cukuplah bagi pencari kebenaran dalam masalah ini, juga masalah
lainnya, firman Allah Subhannahu wa Ta'ala

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukup- kan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama
bagimu." (Al-Ma'idah: 3)


sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,

"Barangsiapa mengada-adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama)
kami, yang bukan merupakan ajaran-nya, maka akan ditolak (HR Bukhari
Muslim)." Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Barangsiapa mengerjakan
sesuatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu
tertolak".

Dari Jabir Radhiallaahu anhu katanya, "Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam dalam khutbah Jum'at pernah bersabda,

"Adapun sesudahnya, sungguh, sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah
(Al-Qur'an), sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, dan
seburuk-buruk perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan
(bid'ah), sedang setiap bid'ah itu kesesatan".

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallaahu
anhu , Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,



Andaikata malam Nisfu Sya'ban diperintahkan untuk dikhususkan dengan
cara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam
memberikan petunjuk kepada umatnya atau beliau sendiri
mengerjakannya. Dan jika hal itu memang pernah terjadi, niscaya
telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita, mereka tidak akan
menyembunyi-kannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan
yang paling tulus setelah para nabi.



Kepada Allah jualah kita memohon, semoga melimpahkan taufik-Nya
kepada kita dan kaum muslimin semua untuk berpegang teguh dengan
sunnah dan menetapinya, serta mewaspadai hal-hal yang bertentangan
dengannya. Sungguh, Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi. Semoga shalawat
dan salam selalu dilimpahkan kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad
Shalallaahu alaihi wasalam , kepada keluarga dan para sahabatnya.



 


 Selasa, 05 September 2006  17:32:00
Gerhana Bulan Diperkirakan Terjadi 7-8 September
Surabaya-RoL -- Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi dan Geofisika Maritim, Tanjung Perak, Surabaya, diperkirakan pada 7-8 September ini akan terjadi gerhana bulan sebagian karena posisi bulan tidak berada pada satu garis lurus dengan matahari.
Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMG Maritim Tanjung Perak Surabaya, Arif Triyono, di Surabaya, Selasa (5/9), mengatakan, gerhana bulan diperkirakan akan berlangsung sekitar empat jam 23 menit mulai pukul 23.42.3 dan berakhir pukul 04.00.1.
Menurut dia, titik kulminasi terjadi pada pukul 01.51.3 yakni akan tampak bulan tertutup lebih banyak dan mebentuk bulan sabit.
Wilayah yang mengalami gerhana bulan yaitu Indonesia, Australia, Asia, Eropa, Afrika, Samudera Hindia bagian barat, Samudera Pasifik dan Afrika.

Sedangkan pada 22 September 2006 diperkirakan akan terjadi gerhana matahari annular, yakni gerhana yang terjadi karena posisi matahari, bulan, dan bumi tidak berada pada satu garis lurus.
Posisi matahari berada di belakang bumi, sehingga pada bagian tengah matahari akan tertutup dan membentuk bayangan, sedangkan bagian lain dari matahari akan tetap bersinar.
Gerhana matahari ini, katanya, tidak dapat dilihat dari wilayah Indonesia, tetapi dapat dilihat di sebagian wilayah Antartika, Samudera Atlantik bagian tengah dan selatan, ujung bagian barat dan ujung bagian selatan.
Selain itu, Afrika bagian timur, Karibia, Amerika selatan di sebagian ujung selatan dan sebagian ujung barat laut. Gerhana akan terjadi mulai pukul 15.39.9, dan akan berakhir pukul 20.29.7.
Ditanya fenomena suhu udara dingin di Surabaya dan sekitarnya, Arif Triyono mengakui bahwa belakangan ini suhu udara pada malam hingga pagi hari berkisar 18-19 derajat Celcius. Dinginnya suhu udara tersebut diduga karena pengaruh udara dingin di Australia.
Bahkan, ia memperkirakan, udara dingin kali ini terkait dengan maju atau mundurnya datangnya musim hujan tahun ini. Kendati begitu, belum diketahui awal musim hujan. antara/is

0 Response to "Tanya Nisyfu Sa'ban"

Posting Komentar

mari berbagi ilmu..