assunnah@yahoogroups.com---
haerul.saleh@id.panasonic.com wrote:
Re: [assunnah]
>>Tanya Nisyfu Sa'ban<<
>
Assalaamu'alaikum,
> Afwan, ana
kehilangan data tentang NISYFU SA'BAN.
> Apabila
diantara ikhwan/ akhwat ada yang masih
> menyimpan
datanya, mohon dapat dikirimkan kealamat
> E-mail ini.
> Syukron.
> Haerul Saleh
Peringatan Malam
Nisfu Sya'ban
Peringatan malam
Nisfu Sya'ban dan mengkhususkan puasa pada hari
tersebut, hingga
saat ini masih membudaya di sebagian kaum muslimin.
Padahal tidak ada
satu pun dalil shahih yang dapat dijadikan
sandaran.
Berikut ini
adalah penjelasan dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah
bin Baz
Rahimahullaah (‘ulama ahlul hadits dari Arab Saudi, telah
meninggal dunia
sekitar tahun 1999) berkenaan dengan peringatan
tersebut, semoga
bermanfaat.
Memang ada
beberapa riwayat tentang malam Nisfu Sya'ban berasal dari
sebagian salaf
ahli Syam dan lainnya. Namun pendapat yang dianut
jumhur
(mayoritas) ulama' bahwa peringatan malam Nisfu Sya'ban
adalah bid'ah dan
hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaannya
semuanya dha'if
(lemah), dan sebagian lagi maudhu' (palsu).
Di antara ulama
yang memperingatkan hal tersebut yaitu Al-Hafizh
Ibnu Rajab dalam
kitab Latha'iful Ma'arif dan ulama' lainnya.
Hadits-hadits
dha'if (lemah) hanya bisa diamalkan dalam ibadah jika
asalnya didukung
oleh dalil yang shahih. Adapun peringatan malam
Nisfu Sya'ban
tidak ada hadits shahih yang mendasari hadits-hadits
yang dha'if, itu
agar dapat dijadikan sebagai pendukungnya.
Kaidah agung ini telah
disebutkan oleh Imam Abul Abbas Syaikhul
Islam Ibnu
Taimiyah Rahimahullaah .
Berikut ini akan
kami sampaikan kepada para pembaca pendapat para
ahli ilmu dalam
hal ini, sehingga masa-lahnya menjadi jelas. Para
ulama, telah
sepakat bahwa wajib mengembalikan segala masalah yang
diperselisihkan
manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur'an) dan sunnah
Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam. Ibadah apa pun yang tidak
disebutkan oleh
keduanya adalah bid'ah, tidak boleh dikerjakan,
apalagi mengajak
untuk mengerjakannya atau memujinya.
Firman Allah
Subhannahu wa Ta'ala ,
"Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul- Nya, dan ulil amri
(pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu
berselisih
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al-Qur'an)
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada
Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa': 59)
"Tentang
sesuatu apa pun kamu berseli-sih, maka putusannya
(terserah) kepada
Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itu
Allah Tuhanku.
Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku
kembali."
(Asy-Syura: 10)
"Katakanlah,
jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu" (Ali 'Imran: 31)
"Maka demi
Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman, hingga
mereka menjadikan
kamu hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa kebera-tan dalam hati
mereka terhadap
putusan yang kamu berikan dan mereka menerima
sepenuhnya."
(An-Nisa': 65).
Dan masih banyak
lagi ayat-ayat yang semakna dengan ini. Itu semua
merupakan nash
yang mewajibkan agar masalah-masalah yang diperse- lisihkan tersebut
dikembalikan kepada Al-Qur'an dan hadits.
Mengenai malam
Nisfu Sya'ban, Ibnu Rajab dalam kitabnya, Latha'iful
Ma'arif
mengatakan, "Para tabi'in dari ahli Syam (sekarang Syria,
pen) seperti:
Khalid bin Ma'dan, Makhul, Luqman bin Amir dan lain- lainnya, pernah
mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah
pada malam Nisfu
Sya'ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil
keutamaan dan
pengagungan itu dari mereka. Dikatakan pula, bahwa
mereka melaku-kan
perbuatan demikian karena adanya cerita-cerita
Israiliyat
(cerita-cerita Bani Israil). Ulama' ahli Syam pun juga
berbeda pendapat
di dalam bentuk pelaksanaannya. Ada
dua pendapat:
Pertama,
dianjurkan menghidupkan malam ini dengan berjama'ah di
masjid-masjid.
Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir dan lainnya pada
malam ini
biasanya mengenakan pakaian yang paling baik, memakai
wewangian dan
celak, serta mereka bangun malam melakukan shalat di
masjid. Ini
disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih. Menurutnya, shalat
malam secara
berjama'ah tidak bid'ah. Hal ini dinukil oleh Harb Al- Karmani dalam kitabnya,
Masa'il.
Kedua, adalah
makruh berkumpul pada malam ini di masjid untuk
shalat, bercerita
dan berdoa. Tetapi boleh, jika menjalankan shalat
secara sendirian.
Ini pendapat Al-Auza'i, seorang imam, ahli fiqih
dan ulama' ahli Syam.
Insya Allah pendapat inilah yang lebih
mendekati
kebenaran. Sedangkan Imam Ahmad tidak diketahui bahwa
beliau mempunyai
pendapat khusus berkenaan dengan malam Nisfu
Sya'ban.
Adapun pendapat
Imam Al-Auza'i tentang istihab (dianjurkannya)
shalat pada malam
itu secara individu, sebagaimana pendapat ini
menjadi pilihan
Al-Hafizh Ibnu Rajab, maka hal itu adalah aneh dan
lemah. Karena
segala perbuatan, bila tidak ada dalil syar'i yang
menetapkan
pensyari'atan-nya, maka tidak boleh bagi seorang muslim
mengada-adakannya
di dalam Islam, baik itu dikerjakan secara
individu ataupun
kolektif (berjama'ah), secara sembunyi-sembunyi
maupun
terang-terangan. Berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallaahu
alaihi wasalam,
"Barangsiapa
mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami
perintahkan, maka
(perbuatan) itu tertolak" (HR Muslim, Hadits
Arba’in no. 5).
Dan dalil-dalil
lainnya yang meng-ingkari perbuatan bid'ah dan
memperi-ngatkan
agar dijauhi.
Imam Abu Bakar
Ath-Thurthusyi Rahimahullaah dalam kitab-nya, Al- Hawadits wal Bida'
mengatakan, "Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari
Zaid bin Aslam,
katanya, 'Kami tidak menjumpai seorang pun dari guru
dan ahli fiqh
kami yang memperhatikan malam Nisfu Sya'ban, ataupun
mengindahkan
hadits Makhul. Mereka pun tidak memandang adanya
keutamaan pada
malam tersebut terhadap malam-malam lainnya.
Dikatakan kepada
Ibnu Abi Mulaikah bahwa Zaid An-Numari
menyatakan,
'Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu
Sya'ban menyamai
pahala Lailatul Qadar.' Ia pun berkata, "Seandainya
saya
men-dengarnya sedang di tangan saya ada tongkat pasti saya
pukul. Zaid
adalah seorang pendongeng."
Al-'Allamah
Asy-Syaukani Rahimahullaah dalam kitab Al-Fawa'id Al- Majmu'ah menyatakan bahwa
hadits,
"Wahai Ali,
barangsiapa melakukan shalat pada malam Nisfu Sya'ban
sebanyak 100
rakaat, pada setiap rakaat ia membaca Al-Fatihah dan Al- Ikhlash sebanyak 10
kali, pasti Allah memenuhi segala
hajatnya
.dst."
Hadits ini adalah
maudhu' (palsu). Lafazh-nya yang menerangkan
tentang pahala
yang akan diterima oleh pelaku-nya, tidak diragukan
lagi
kelemahan-nya, bagi orang yang berakal. Sanadnya pun majhul
(tidak dikenal).
Telah diriwayatkan dari jalan ke dua dan ke tiga,
tetapi kesemuanya
maudhu' dan para periwayatnya adalah orang-orang
yang tidak
dikenal."
Di dalam kitab
Al-Mukhtashar, Asy-Syaukani menyatakan, "Hadits yang
menerangkan
shalat Nisfu Sya'ban adalah bathil. Sedangkan
hadits,
"Jika datang malam Nisfu Sya'ban, maka bershalatlah pada
malam harinya dan
berpuasalah pada siang harinya". Yang diriwayatkan
oleh Ibnu Hibban
dari Ali adalah dha'if."
Di dalam kitab
Al-La'ali, dinyatakan bahwa hadits "Seratus rakaat
pada malam Nisfu
Sya'ban dengan ikhlas pahalanya sepuluh kali
lipat", yang
diriwayatkan Ad-Dailami, adalah maudhu' dan mayoritas
perawinya pada
ketiga jalan hadits ini adalah orang-orang yang
majhul dan
dha'if. Kata Imam Asy-Syaukani, "Hadits yang menerang-kan
bahwa dua belas
rakaat dengan ikhlas pahalanya tiga puluh kali
lipat, dan hadits
empat belas rakaat.dst adalah maudhu'."
Shalat pada malam
Nisfu Sya'ban ini telah diriwayatkan dengan
berbagai cara dan
banyak jalan, kesemuanya bathil dan maudhu'. Al- Hafizh Al-Iraqi mengatakan,
"Hadits yang menerang-kan tentang Nisfu
Sya'ban adalah
maudhu' (palsu) dan pendustaan atas diri Rasulullah
shallallaahu
‘alaihi wasallam."
Di dalam kitab
Al-Majmu', Imam An-Nawawi Asy Syafi'i
menyatakan,
"Shalat yang dikenal dengan Ragha'ib yang berjumlah dua
belas rakaat dan
dikerjakan antara Maghrib dan Isya' pada Malam
Jum'at pertama
Bulan Rajab, serta shalat malam Nisfu Sya'ban yang
berjumlah seratus
rakaat, adalah bid'ah yang mungkar, tak boleh
seseorang
terperdaya hanya karena kedua shalat ini disebutkan dalam
kitab Quutul
Qulub dan Ihya' Ulumiddin (karya Imam Ghozali), atau
karena
berdasarkan hadits yang disebutkan dalam kedua kitab ini.
Cukuplah bagi
pencari kebenaran dalam masalah ini, juga masalah
lainnya, firman
Allah Subhannahu wa Ta'ala
Pada hari ini
telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukup- kan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai
Islam itu sebagai agama
bagimu."
(Al-Ma'idah: 3)
Dan ayat-ayat
lain serta hadits-hadits yang senada maknanya, seperti
sabda Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam ,
"Barangsiapa
mengada-adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama)
kami, yang bukan
merupakan ajaran-nya, maka akan ditolak (HR Bukhari
Muslim)."
Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Barangsiapa mengerjakan
sesuatu perbuatan
yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu
tertolak".
Dari Jabir Radhiallaahu
anhu katanya, "Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam dalam
khutbah Jum'at pernah bersabda,
"Adapun
sesudahnya, sungguh, sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah
(Al-Qur'an),
sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, dan
seburuk-buruk
perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan
(bid'ah), sedang
setiap bid'ah itu kesesatan".
Diriwayatkan
dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallaahu
anhu , Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
"Janganlah
kalian mengkhususkan malam Jum'at dari-pada malam-malam
lainnya dengan
shalat, dan janganlah kalian mengkhususkan siang
harinya daripada
hari-hari lainnya dengan puasa, kecuali jika dalam
puasa yang mesti
(biasa) dilakukan oleh seseorang di antara kalian"
Tatkala Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam melarang pengkhususan
shalat pada malam
Jum'at daripada malam lainnya, hal itu menunjukkan
bahwa pada malam
lain lebih tidak boleh dikhususkan dengan ibadah
tertentu, kecuali
jika ada dalil shahih yang menunjukkan
pengkhususan,
seperti malam Lailatul Qadar dan malam-malam Bulan
Ramadhan.
Andaikata malam
Nisfu Sya'ban diperintahkan untuk dikhususkan dengan
cara atau ibadah
tertentu, pastilah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam
memberikan
petunjuk kepada umatnya atau beliau sendiri
mengerjakannya.
Dan jika hal itu memang pernah terjadi, niscaya
telah disampaikan
oleh para sahabat kepada kita, mereka tidak akan
menyembunyi-kannya,
karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan
yang paling tulus
setelah para nabi.
Kepada Allah
jualah kita memohon, semoga melimpahkan taufik-Nya
kepada kita dan
kaum muslimin semua untuk berpegang teguh dengan
sunnah dan
menetapinya, serta mewaspadai hal-hal yang bertentangan
dengannya.
Sungguh, Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi. Semoga shalawat
dan salam selalu
dilimpahkan kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad
Shalallaahu
alaihi wasalam , kepada keluarga dan para sahabatnya.
[Dari buku
"At-Tahdzir Minal Bida" Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz]
assunnah@yahoogroups.com---Abu Ghazi
[onlyonejo0907@yahoo.com]
[assunnah] Re:
>>Tanya Puasa Nisfu Sya`ban<<
Akan coba ana
jawab berdasarkan apa yg akan ana cuplik dari buku "
Puasa Sunnah---
Hukum dan Keutamaannya karangan Usamah Abdul Aziz,
Penerbit Darul
Haq, Judul Aslinya : Shiyam at-Tathawwu' Fadha'il wa
Ahkam
Bid'ahnya
menetapkan Puasa pada pertengahan bulan Sya'ban
Menetapkan puasa
secara khusus pada hari pertengahan bulan Sya'ban
tanpa hari-hari
yang lain karena diyakini memiliki keutamaan di
banding hari-hari
lainnya adalah perbuatan Bid'ah ini karena tidak
ada dalil yg
shahih yg menerangkannya.
Hadits² yg ada
dalam masalah ini adalah hadits²yang sangat lemah
bahkan maudlu'
Ali bin Abi
Thalib mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda
"Bila malam pertengahan bulan Sya'ban tiba maka
lakukanlah shalat
di malam harinya dan puasa di siang harinya, karena
sesungguhnya
Allah turun pada malam itu saat matahari tenggelam ke
langit dunia,
lalu dia berfirman : Adakah orang yang memohon ampun,
maka Aku pasti
mengampuninya, adakah orang yang meminta rizki maka
Aku pasti
memberinya, Adakah orang yang tertimpa musibah, maka Aku
pasti
menyelamatkannya, Adakah ini, adakah itu ... hingga fajar
terbit
(Hadits ini
sangat lemah dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1388)
melalui jalan
Abdurrazaq dari Ibnu Abi Sabrah dari Ibrahim dari
Muawiyah bin
Abdillah bin Ja'far dari bapaknya dari Ali bin Abi
Thalib)
Usamah Abdul Aziz
berkata : Sanadnya sangat lemah dan kecacatannya
terletak pada
Ibnu Abi Sabrah yang bernama Abu Bakar bin Abdillah bin
Muhammad bin Ibnu
Abi Sabrah. Para ulama menuduhnya telah
memalsukan
hadits. Ahmad
berkata "dia perawi yg sangat lemah". dia dalah pemalsu
hadits dan dia
seorang pendusta.
Ibnu Ma'in
berkata Haditsnya sangat lemah
Ibnu Al Madini
berkata Dia seorang perawi yg lemah haditsnya. Kadang
Ibnu Ma'in
mentakan dia perawi yg hadistnya munkar dan menurut saya
dia seperti Ibnu
Adi Yahya.
Ibnu Adi berkata
: Mayoritas riwayatnya tidak shahih dan dia termasuk
para pemalsu
hadits.
Mengenai gurunya
terdapat perbedaan pendapat. PAkah dia adalah Ibnu
Abi Yahya ? Jika
benar ia Ibnu Abi Yahya, maka dia tidak lebih baik
dari muridnya dan
jika bukan Ibnu ABi Yahya, maka dia perawi yang
majhul (tidak
jelas identitasnya. Ad Dzahabi dalam Mizan al-I'tidal
berkata
"Mungkin dia (gurunya) adalah Ibnu ABi Yahya dan jika bukan
maka dia bukan
perwai yg dikenal (masyhur)
Pendapat
al-Mubarakfury dalam Tuhfat al-Ahwadzi (3/444)
Saya tidak mendapatkan
hadist Marfu' yang shahih tentang puasa pada
hari pertengahan
bulan Sya'ban. Mengenai Hadisty Ali bin ABi Thalib
yg diriwaytkan
oleh Ibnu Majah seperti redaksi di atas saya telah
mengetahuinya
bahwa hadist ini adalah hadits yang sangat lemah.
Ali juga memiliki
hadits lain yang redaksinya berbunyi
"Bila pad
hari itu seseorang berpuasa maka ia sperti berpuasa selama
enam puluh tahun
dan enam puluh tahun yang akan datang
(Hadist ini
diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam al-Maudhu'at
(hadits²palsu)
dan dalam komentarnya ia mengatakan "Sanadnya Gelap"
Syaikh Shalih
Fauzan al-Fauzan ditanya
Apakah
disyariatkan melakukan shalat malam pertengahan Sya'ban dan
melakukan puasa
siang harinya?
Jawab
Tidak ada hadits
yg shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
tentang anjuran
shalat pada malam pertengahna Sya'ban secara khusus
dan puasa pada
siang harinya secara khusus pula. Tidak ada satupun
hadist shahih
dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal itu
yg dapat
dijadikan acuan. Malam pertengahan bulan Sya'ban adalah
malam yg sama
dengan malam² lainnya. Bila seseorang memiliki
kebiasaan
melakukan shalat malam, maka dia boleh melakukannya pada
malam tersebut
seperti malam² lainnyatanpa ada keistimewaan khusus
yang dimiliki
malam itu. Sebab menetapkan waktu tertentu untuk
melakukan ibadah
harus memiliki dalil yang shahih dan jika dalil
shahih tidak ada
maka itu dapat disebut bid'ah dan setiap bid'ah
adalah kesesatan.
Demikian juga
tidak ada dalil sevara khusus dari Nabi
shallallahu
'alaihi wa sallam tentang disyari’atkan puasa pada
tanggal 15 bulan
Sya’ban atau pada pertengahan bulan tersebut. Adapun
hadits² yang
terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadist palsu
sebagaimana telah
dikemukakan para ulama. Akan tetapi bagi orang yg
memiliki
kebiasaan pada hari-hari putih (tgl 14, 15, 16) maka ia
boleh melakukan
puasa Sya’ban seperti pada bulan-bulan lainnya tanpa
mengkhususkan
hari itu saja. Misalnya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam selalu
berpuasa dan bahkan memperbanyak puasa pada bulan
ini (Sya’ban)
tanpa mengkhususkannya hari itu saja, tetapi hari itu
masuk secara
kebetulan.
Untuk lebih
jelasnya silahkan merujuk pada Buku Puasa Sunnah â€" Hukum
dan Keutamaanya
Karangan Usamah Abdul Azis, hal. 62 -64 dengan judul
aslinya Shiyam
at-Tathawwu' Fadha'il wa Ahkam
Barrakallahufeekum
Wasalamu’alaikum
Abu Ghazi
------------------------
Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access
to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
------------------------------------------------------------------------
Website Islam
pilihan anda.
Website kajian
Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan:
assunnah-subscribe@yahoogroups.com
Ketentuan posting
: aturanmilis@assunnah.or.id
------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups
Links
<*> To
visit your group on the web, go to:
<*> To
unsubscribe from this group, send an email to:
assunnah-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your
use of Yahoo! Groups is subject to:
Doa memeliki
kedudukan yg sangat penting da mulia, shg akhir penyelesaian segala sesuatu
bisa melalui doa. Semua manusia dari yg kaya atau miskin, besar ato kecil, tua
ato muda, laki2 ato perempuan selalu dianjurkan utk berdoa.
“Dan Tuhanmu
berfirman:’ Berdoalah kepadaKu,niscaya akan Kuperkenankan kepadamu’.” (Qs.
Ghafiir:60)
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu’anhu, Nabi Shalallahu’alaihi wassalam bersabda :
“Sesungguhnya
Tuhan kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia
hingga tersisa sepertiga malam yang akhir, lalu berfirman:’Barangsiapa yang
berdoa, maka akan Aku kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti akakn Aku
perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan
mengampuninya’." (hr. al Bukhari)
Akan tetapi ada
sebagian doa tertahan ato tertolak karena terdapat beberapa penghalang,
kekeliruan ato kesalahan dalam berdoa, serta sikap yang melampaui batas dan
tidak memenuhi syarat2; petunjuk Allah dan Rasulnya dlm berdoa.
Sebuah doa akan
dikabulkan apabila dilakukan dengan tata cara yang benar, dilakukan di waktu2
yg tepat dan apabila bersumber dari al Qur’an dan Sunnah.
Al Qur’an, as
Sunnah dan Atsar salafush shalih telah memberikan petunjuk mengenai jenis doa
dan dzikir yg dianjurkan sebagaimana ibadah2 lainnya. Nabi Shalallaahu alaihi
wasalam sdh menjelaskan kepada umatnya dengan gamblang mengenai doa dan csikir
dgn lengkap dan sempurna setiap hari, setiap waktu, dlam berbagai kesempatan
dan dalam situasi dan kondisi yg dialami oleh setiap muslim.
"Ya Allah!! Sebagaimana Engkau Pernah
menghantar burung-burung ababil menghancurkan tentera bergajah Musyrikin, maka
kami memohon kepada mu Ya Allah........ turunkan lah bantuan mu kali ini kepada
orang orang Islam di Libanon, hancurkanlah rejim
zionis..amin...."> >
(Lalu bacalah surah Al Fil /
membayangkan kehancuran tentera Yahudi - dengan Izin Allah)
Surah al fil:
"A'lam tara kayfa fa'ala rabbuka bi as-hab al-fil
Surah al fil:
"A'lam tara kayfa fa'ala rabbuka bi as-hab al-fil
"A'lam ya'jal kaydahum fi tadlil Wa arsala
alayhim tayran ababil
"Tarmihim bi hijaratin min sijjil Fa ja'ala
hum ka asfin ma'kul"
Lipat gandakan doa ini. Kirim kepada 7
orang rakan anda yang lain.
Maka 7 X 7 X 7 X 7 X 7 X 7 X 7 = 823453 orang
akan berbuat berdoa,
kemudian 823453 X 7 = 5.8 juta
orang...InsyaAllah akan ikut berdoa...
Sesungguhnya Allah maha pemurah lagi
mengasihani, mendengar doa kita.
Adalah dialu-alukan kepada sesiapa yang
berinisiatif menterjemahkan dalam bahasa Inggeris
untuk
dihantar ke saudara Islam di UK
dan US
serta pelusuk dunia.
Dari Mughirah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam [artinya]
:
Sesungguhnya berdusta atas (nama)-ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama
orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)-ku dengan sengaja, maka hendak-lah
ia mengambil tempat duduknya dari Neraka." [Al-Bukhari no.
1291 dan Muslim I/10]
Cukuplah bagi
pencari kebenaran dalam masalah ini, juga masalah
lainnya, firman
Allah Subhannahu wa Ta'ala
Pada hari ini
telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukup- kan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai
Islam itu sebagai agama
bagimu."
(Al-Ma'idah: 3)
sabda Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam ,
"Barangsiapa
mengada-adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama)
kami, yang bukan
merupakan ajaran-nya, maka akan ditolak (HR Bukhari
Muslim)."
Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Barangsiapa mengerjakan
sesuatu perbuatan
yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu
tertolak".
Dari Jabir
Radhiallaahu anhu katanya, "Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam dalam
khutbah Jum'at pernah bersabda,
"Adapun
sesudahnya, sungguh, sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah
(Al-Qur'an),
sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, dan
seburuk-buruk
perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan
(bid'ah), sedang
setiap bid'ah itu kesesatan".
Diriwayatkan
dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallaahu
anhu , Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
Andaikata malam
Nisfu Sya'ban diperintahkan untuk dikhususkan dengan
cara atau ibadah
tertentu, pastilah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam
memberikan
petunjuk kepada umatnya atau beliau sendiri
mengerjakannya.
Dan jika hal itu memang pernah terjadi, niscaya
telah disampaikan
oleh para sahabat kepada kita, mereka tidak akan
menyembunyi-kannya,
karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan
yang paling tulus
setelah para nabi.
Kepada Allah
jualah kita memohon, semoga melimpahkan taufik-Nya
kepada kita dan
kaum muslimin semua untuk berpegang teguh dengan
sunnah dan
menetapinya, serta mewaspadai hal-hal yang bertentangan
dengannya.
Sungguh, Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi. Semoga shalawat
dan salam selalu
dilimpahkan kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad
Shalallaahu
alaihi wasalam , kepada keluarga dan para sahabatnya.
Selasa, 05 September 2006 17:32:00
Gerhana Bulan Diperkirakan Terjadi 7-8 September
Surabaya-RoL --
Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi dan Geofisika Maritim, Tanjung Perak,
Surabaya, diperkirakan pada 7-8 September
ini akan terjadi gerhana
bulan sebagian
karena posisi bulan
tidak berada pada satu garis lurus dengan matahari.Gerhana Bulan Diperkirakan Terjadi 7-8 September
Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMG Maritim Tanjung Perak Surabaya, Arif Triyono, di Surabaya, Selasa (5/9), mengatakan, gerhana bulan diperkirakan akan berlangsung sekitar empat jam 23 menit mulai pukul 23.42.3 dan berakhir pukul 04.00.1.
Menurut dia, titik kulminasi terjadi pada pukul 01.51.3 yakni akan tampak bulan tertutup lebih banyak dan mebentuk bulan sabit.
Wilayah yang mengalami gerhana bulan yaitu Indonesia, Australia, Asia, Eropa, Afrika, Samudera Hindia bagian barat, Samudera Pasifik dan Afrika.
Sedangkan pada 22 September 2006 diperkirakan akan terjadi gerhana matahari annular, yakni gerhana yang terjadi karena posisi matahari, bulan, dan bumi tidak berada pada satu garis lurus.
Posisi matahari berada di belakang bumi, sehingga pada bagian tengah matahari akan tertutup dan membentuk bayangan, sedangkan bagian lain dari matahari akan tetap bersinar.
Gerhana matahari ini, katanya, tidak dapat dilihat dari wilayah Indonesia, tetapi dapat dilihat di sebagian wilayah Antartika, Samudera Atlantik bagian tengah dan selatan, ujung bagian barat dan ujung bagian selatan.
Selain itu, Afrika bagian timur, Karibia, Amerika selatan di sebagian ujung selatan dan sebagian ujung barat laut. Gerhana akan terjadi mulai pukul 15.39.9, dan akan berakhir pukul 20.29.7.
Ditanya fenomena suhu udara dingin di Surabaya dan sekitarnya, Arif Triyono mengakui bahwa belakangan ini suhu udara pada malam hingga pagi hari berkisar 18-19 derajat Celcius. Dinginnya suhu udara tersebut diduga karena pengaruh udara dingin di Australia.
Bahkan, ia memperkirakan, udara dingin kali ini terkait dengan maju atau mundurnya datangnya musim hujan tahun ini. Kendati begitu, belum diketahui awal musim hujan. antara/is

0 Response to "Tanya Nisyfu Sa'ban"
Posting Komentar
mari berbagi ilmu..